Jumat, 09 Januari 2015

Peran Media Sosial dalam Mengubah Kebiasaan Sholat pada Anggota Rohis SMPN 179



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lainnya dan makhluk yang saling mengenal satu sama lain.
Dalam Islam, kita diharuskan untuk menjaga tali persaudaraan antar umat islam. Seperti yang tertera dalam ayat dan hadist berikut ini. “Barang siapa yang menginginkan rezekinya dibentangkan dan dilapangkan serta umurnya dipanjangkan, bersilaturahmilah.” (Diriwayatkan Anas bin Malik-dinukil Bukhari dalam al-Adab dan Muslim dalam al-Birri wa as-Sillah)
            Saat ini zaman sangat berkembang. Segala hal menjadi mudah, segala hal menjadi cepat dan ringan. Itu semua karena perkembangan zaman yang membawa teknologi menjadi lebih maju. Termasuk memajukan bidang komunikasi sekaligus memudahkan kita untuk menjalin tali persaudaraan tanpa memikirkan jarak yang menjadi halagan.
            Media sosial adalah salah satu contohnya, bukti kemajuan dalam teknologi di bidang komunikasi. Media sosial benar-benar menjalankan fungsinya untuk memudahkan hubungan sosial antar manusia. Karena hampir semua aplikasinya sudah tersedia di telepon genggam yang sudah menjadi teman sehari-hari.
            Sesuatu hal apapun, dapat menjadi hal yang baik jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Salah satu contohnya, media sosial sebenarnya bisa saja menjadi sarana berdakwah karena penggemar media sosial yang cukup banyak. Sayang, media sosial tak selalu membawa angin segar. Dengan media sosial hal yang jauh menjadi sangat dekat, dan bisa jadi hal yang dekat menjadi sangat jauh. Hal itu hanyalah salah satu dari ribuan hal merugikan lain yang bisa saja didapat dari media sosial jika kita tak pintar-pintar untu menggunakannya.
            Ketaatan kita terhadap agama menjadi taruhannya untuk menghadapi serangan media sosial. Bagaimana tidak, jika kita keasyikan bermain di media sosial hal yang paling ditakutkan adalah melalaikan agama kita sendiri. Salah satunya adalah melalaikan salat. Dan itu adalah salah satu bentuk godaan syetan, bahkan syetan telah berjanji kepada Allah untuk selalu menggoda manusia. “Iblis menjawab ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’” (QS.Al-A’raf (7) :16 dan 17).
Maka dari itu, kita harus harus menjaga keimanan kita saat kita bersosial media. Sebenarnya bukan hanya saat bersosial media saja, tapi setiap saat. Hanya saja media sosial terkadang membuat kita lupa waktu dan akhirnya melalaikan perintah Allah dalam menjalankan ibadah, khususnya ibadah sholat.
B.     Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan untuk melihat pengaruh media sosial terhadap perubahan masyarakat, khususnya para pelajar dalam menjalankan ibadah sholatnya.

C.     Rumusan Masalah
“Bagaimanakah pengaruh keasyikan menggunakan media sosial terhadap kedisiplinan menjalankan ibadah shalat pada siswa Rohis ?”

D.    Kegunaan Penelitian
Penelitian ini untuk mendeskripsikan penggunaan media sosial di kalangan anak Rohis untuk menjadi masukan kepada diri saya sendiri atau orang lain untuk mengambil langkah yang tepat dalam membina anak-anak Rohis.

BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Konsep Ibadah Sholat
“….. Salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS An-Nisa’(4) :103)
Ini berarti bahwa shalat merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dan waktunya sudah ditentukan sehingga lebih baik untuk mengerjakannya tepat waktu.
      "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"(QS. Huud: 114)
Adapun waktu-waktu sholat adalah sebagai berikut,
a.       Sholat subuh, dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari.
b.      Sholat Zuhur, dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat.
c.       Sholat Ashar, dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri.
d.      Sholat Maghrib, dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama, yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi.
e.       Sholat Isya’, dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit.
B.     Konsep Media Sosial
Media sosial, seperti namanya media sosial merupakan media untuk bersosialisasi. Informasi yang didapat dari sebuah halaman media sosial (Wikipedia) dijelaskan bahwa media sosial itu sendiri adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial adalah media online yang mendukung interaksi sosial dan media sosial menggunakan teknologi berbasis web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif (dikutip dari http://ptkomunikasi.wordpress.com).
Media sosial yang benar-benar sedang naik daun dikalangan remaja dan pelajar adalah jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ada juga jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan para penggunanya untuk berbagi foto, contohnya adalah jejaring sosial Instagram.
Saat ini, media sosial benar-benar memiliki daya tarik tersendiri. Selain untuk memudahkan seseorang dalam berkomunikasi, ternyata media sosial juga dianggap memiliki pengaruh terhadap status sosial seseorang menurut sebagian orang, “Kalo dia punya banyak followers di twitter artinya dia lumayan terkenal, tapi kecuali dia pake free followers”, menurut salah seorang yang berpendapat seperti itu(Ravena Rusma).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Tujuan Penelitian
(1)   Memperoleh data tentang banyaknya anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179 yang aktif menggunakan media sosial
(2)   Memperoleh data tentang media sosial apa yang sering digunakan oleh anggota  Rohis kelas VIII di SMP N 179.
(3)   Memperoleh data tentang hal-hal yang dibahas dalam media sosial.
(4)   Memperoleh data tentang pengaruh penggunaan media sosial dalam menjalankan ibadah sholat wajib.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian di SMP N 179. Waktunya, pada minggu pertama dan kedua di bulan September 2013.
C.     Latar Penelitian
Penelitian dilakukan pada anggota Rohis SMP N 179  yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang ada di lingkungan SMP N 179. Penelitian dikhususkan pada anggota Rohis kelas VIII yang berjumlah 42 anak.
D.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan adalah wawancara langsung dengan teknik bincang-bincang, sehingga narasumber tidak tahu bahwa dirinya sedang diwawancarai. Dan juga teknik respondensi.
F.      Sumber Data
Anak Rohis dengan jumlah sebagai berikut:
(1)   Anak laki-laki dengan jumlah 13 anak
(2)   Anak perempuan dengan jumlah 29 anak
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.    Gambaran Latar Penelitian
Gambaran latar penelitiannya adalah mencari informasi tentang pengaruh media sosial dalam menjalankan ibadah sholat, maka dari  itu objek pengamatannya adalah sebagian anggota Rohis, yaitu seluruh anggota Rohis di kelas 8.

B.     Temuan Penelitian

1.      Data tentang Banyaknya Anak-anak Rohis kelas VIII di SMP N 179 yang Aktif Menggunakan Media Sosial.
Dari 42 anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179 ada 31 anak yang mengaku bahwa dirinya aktif di media sosial. “Aktif di media sosial sih, tapi lebih seringnya di Twitter.”, ujar seorang narasumber (Alfi Nabila). Ada lagi pengakuan dari anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179 lainnya “Aktif sih, Facebook sama Twitter seimbang”, jawaban seorang anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179 ( Ahmad Syafiq), ketika ditanya mengenai aktif atau tidaknya di media sosial.
Ada 11 anak yang mengaku dirinya biasa saja terhadap media sosial, “Saya menggunakan media sosial biasa aja sih ya, dibilang aktif enggak, soalnya jarang buka media sosial, kayak twitter sekalinya buka paling juga hanya balas mention yang masuk”, ujar seorang narasumber (Airlangga Raihan). Ada juga jawaban lain saat ditanya mengenai aktif atau tidaknya menggunakan media sosial, dan mengaku biasa saja “Aktif sih enggak, biasa aja. Kalo ada waktu luang sih on di Facebook atau enggak Twitter, tapi nggak aktif sih ya, biasa aja”, jawab seorang narasumber lain (Ravena Rusma)
           

2.      Data media sosial  yang sering digunakan oleh anak-anak Rohis kelas VIII SMP N 179.
Dari 42 anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179, berikut adalah data yang di dapat;
Media Sosial
Jumlah penggemar
Alasan
Facebook
1 orang
“Kalo di Facebook itu seru sih ya, walaupun di Twitter lebih ramai tapi rasanya sudah tertarik dan terlanjur nyaman aja sama Facebook”, (Tri Yuliana)
Twitter
41 orang
“Seru di Twitter lah, bisa saling ngefollow, ada timeline juga, pokoknya twitter lebih menarik deh”(Devanya Khoirunisa)
“Twitter sih, soalnya ramai, seru, terus ada aplikasi tambahan juga di twitter kan kayak twitbot.”, (Dinda Ayu).

3.      Data tentang hal-hal yang dibahas dalam media sosial.
Saat menggunakan media sosial, tentunya ada hal yang dibahas di dalamnya, hal-hal itu mencangkup hal yang dibicarakan saat berkomunikasi melalui media sosial dan hal yang ditulis atau diunggah di media sosial.
a)      Hal yang dibicarakan saat berkomunikasi melalui media sosial
Hal yang sering dibicarakan saat berkomunikasi melalui media sosial, yaitu ada yang memanfaatkan media sosial untuk curhat ke teman melalui media sosial tersebut. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang narasumber “Kalau komunikasi lewat media sosial paling sama temen sih, biasanya curhat lewat DM di Twitter atau di inbox Facebook”, (Munifa).
Saat berkomunikasi melalui media sosial, ada juga yang hanya sekedar menyakan tentang tugas sekolah, “Kalau komunikasi lewat media sosial ya paling nanya-nanya PR sama temen”, (Avinda).
b)      Hal yang ditulis atau diunggah di media sosial
Hal yang ditulis atau diunggah di media sosial, ternyata tergantung perasaan orang tersebut saat sedag menggunakan media sosial. “Nge-tweet di twitter sih tergantung mood, kalau moodnya lagi bagus ya nge-tweetnya yang baik-baik yang bijak-bijak deh, pernah juga sih nge-tweet soal agama.”, ujar seorang narasumber (Fasya)
Hal apa saja yang baiasa dibahas di media sosial juga dijawab oleh salah seorang narasumber lain. “Biasanya sih kalau di Facebook atau enggak di twitter bahasnya sesuai perasaan saat itu. Nah, tapi kan saya lebih aktif di Facebook dan di Facebook cukup banyak halaman yang memuat artikel tentang agama Islam yang sudah saya like, dan artikel-artikel tersebut saya sering bagikan lewat facebook.”, (Tri Yuliana)
Hampir semua narasumber menjawab hal yang sama mengenai hal-hal apa saja yang dibahas di media sosial. Jawaban terbanyak adalah sesuai perasaan kita saat memainkan media sosial tersebut.
Tapi alangkah lebih baik lagi jika kita lebih sering bahkan selalu menyebarkan dakwah, meskipun hanya lewat dunia maya atau media sosial. Seperti yang tertera dalam hadist, “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari]
4.      Data tentang pengaruh penggunaan media sosial dalam menjalankan ibadah sholat wajib.
Penggunaan media sosial yang melampaui batas akan berdampak buruk yang salah satunya adalah lalai dalam sholat, melalaikan waktu sholat sangat dilarang oleh Allah swt. “Maka celakalah orang-orang yang shalat (4), (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya (5)” (QS. Al-Ma’un 107: 4 dan 5).
Tapi nyatanya, media sosial benar-benar merubah kebiasaan sholat bagi orang yang tak tahan akan godaan. Beberapa narasumber mengaku bahwa dirinya pernah bahkan bisa dikatakan sering mengulur waktu sholat juga sudah benar-benar ke asyikan bersosial media. “Kalau sudah terlalu keasyikan sih jadi lupa waktu, entah kenapa bawaannya itu tanggung aja buat main, eh lama-lama waktu sholatnya jadi keundur, bahkan pernah dapat waktu sholat di penghujung waktunya saat waktu untuk menjalankan sholat tersebut hampir habis.”, ujar salah seorang narasumber (Fara).
Terlalu asyik bermain media sosial juga bukan hanya mengulur dan menunda waktu sholat, tapi juga menyebabkan seseorang tersebut meninggalkan sholatnya. Seperti pernyataan seorang narasumber berikut saat ditanya mengenai pengaruh media sosial dalam menjalankan ibadah sholat, “Media sosial berpengaruh sih sama waktu menjalankan sholat, waktu itu pernah ninggalin sholat cuma karena terlalu seru bales mention di twitter ya gimana ya, kayak udah keasyikan aja deh, awalnya cuma tanggung dan nggak niat ninggalin sholat. Tapi akhirnya malah kelewatan waktu sholatnya.”,(Bella).
Ternyata benar, secara tidak langsung media sosial berpengaruh terhadap waktu menjalankan ibadah sholat, itu semua karena syetan yang selalu ingin menggoda manusia lewat jalan mana pun.



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Media sosial ternyata sudah menjadi hal yang biasa di kalangan pelajar termasuk anak-anak Rohis yang menjadi fokus penelitian kali ini.
Ternyata Media sosial juga bisa membawa bencana jika kita tidak menyikapinya dengan baik, contohnya seperti meninggalkan sholat. Terlalu asyik bersosial media memiliki efek samping salah satunya adalah hal tersebut. Awalnya mungkin hanya berasal dari kata ‘tanggung’ dan beranggapan bahwa waktu sholat itu sangat luas dan akhirnya mengulur-ulur waku sholat. Sampai akhirnya sholat tersebut pun tertinggalkan.
Meninggalkan sholat karena terlala asyik bersosial media ternyata dapat kembali terulang jika tidak mencoba untuk menegur diri sendiri.
Bermain media sosial bukan berarti tidak boleh, tapi jangan lah meninggalkan sholat apalagi hanya karena sibuk membalas mention yang masuk di Twitter, sibuk memberikan komentar dan like di Facebook, sibuk unggah foto melalui instagram. Karena sebenarnya semua itu ada batasnya dan Allah tidak menyukai hal yang berlebihan dan melampaui batas.

B.     Saran
Setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya, begitu juga dengan permasalahan ini, ada saran-saran untuk mencegah pengaruh buruk dari bersosial media, yang salah satunya adalah meninggalkan sholat.
Bermain media sosial tetap bisa dijalankan, tapi setidaknya dikurangkan waktu dalam bermain di media sosial agar tetap memiliki waktu dalam beribadah. Jika tidak dapat mengurangi waktu untuk bersosial media, tapi  tetap harus menjalankan sholat dan tidak meninggalkannya, memantapkan hati untuk tidak lalai dalam sholat.
Agak sulit memang jika meninggalkan sholat sudah menjadi kebiasaan, mungkin awalnya hanya karena terlalu asyik bermedia sosial yang selanjutnya mengulur-ulur waktu sholat hingga akhirnya waktu sholat itu habis. Maka dari itu, mulailah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Biasakan untuk sholat tepat waktu dan tidak lalai dalam waktu sholat.
Sebenarnya, jalan keluar yang paling efektif datang dari kemauan dan kesadaran diri sendiri. Meyakinkan dalam hati bahwa sholat adalah kebutuhan kita sebagai umat islam. Jadi, di saat kita meninggalkan sholat kita akan merasakan ada sesuatu yang hilang di diri kita.
Selain itu, saran berikutnya adalah saling mengingati untuk selalu menjalankan sholat.
C.     Daftar Pustaka
·         Al-Qur’an
·         Hadist
·         Ensiklopedia Indeks Al-Qur’an 

 Disusun Oleh: Salindri Dara Rizkita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar