BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia adalah makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lainnya dan makhluk
yang saling mengenal satu sama lain.
Dalam
Islam, kita diharuskan untuk menjaga tali persaudaraan antar umat islam.
Seperti yang tertera dalam ayat dan hadist berikut ini. “Barang
siapa yang menginginkan rezekinya dibentangkan dan dilapangkan serta umurnya
dipanjangkan, bersilaturahmilah.” (Diriwayatkan Anas bin Malik-dinukil
Bukhari dalam al-Adab dan Muslim dalam al-Birri wa as-Sillah)
Saat ini zaman sangat berkembang.
Segala hal menjadi mudah, segala hal menjadi cepat dan ringan. Itu semua karena
perkembangan zaman yang membawa teknologi menjadi lebih maju. Termasuk
memajukan bidang komunikasi sekaligus memudahkan kita untuk menjalin tali
persaudaraan tanpa memikirkan jarak yang menjadi halagan.
Media sosial adalah salah satu
contohnya, bukti kemajuan dalam teknologi di bidang komunikasi. Media sosial
benar-benar menjalankan fungsinya untuk memudahkan hubungan sosial antar
manusia. Karena hampir semua aplikasinya sudah tersedia di telepon genggam yang
sudah menjadi teman sehari-hari.
Sesuatu hal apapun, dapat menjadi
hal yang baik jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Salah satu
contohnya, media sosial sebenarnya bisa saja menjadi sarana berdakwah karena
penggemar media sosial yang cukup banyak. Sayang, media sosial tak selalu
membawa angin segar. Dengan media sosial hal yang jauh menjadi sangat dekat,
dan bisa jadi hal yang dekat menjadi sangat jauh. Hal itu hanyalah salah satu
dari ribuan hal merugikan lain yang bisa saja didapat dari media sosial jika
kita tak pintar-pintar untu menggunakannya.
Ketaatan kita terhadap agama menjadi
taruhannya untuk menghadapi serangan media sosial. Bagaimana tidak, jika kita
keasyikan bermain di media sosial hal yang paling ditakutkan adalah melalaikan
agama kita sendiri. Salah satunya adalah melalaikan salat. Dan itu adalah salah
satu bentuk godaan syetan, bahkan syetan telah berjanji kepada Allah untuk
selalu menggoda manusia. “Iblis menjawab
‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’” (QS.Al-A’raf (7) :16 dan 17).
Maka
dari itu, kita harus harus menjaga keimanan kita saat kita bersosial media.
Sebenarnya bukan hanya saat bersosial media saja, tapi setiap saat. Hanya saja
media sosial terkadang membuat kita lupa waktu dan akhirnya melalaikan perintah
Allah dalam menjalankan ibadah, khususnya ibadah sholat.
B. Fokus
Penelitian
Penelitian ini difokuskan untuk melihat pengaruh media
sosial terhadap perubahan masyarakat, khususnya para pelajar dalam menjalankan
ibadah sholatnya.
C. Rumusan
Masalah
“Bagaimanakah
pengaruh keasyikan menggunakan media sosial terhadap kedisiplinan menjalankan
ibadah shalat pada siswa Rohis ?”
D. Kegunaan
Penelitian
Penelitian ini untuk mendeskripsikan penggunaan media
sosial di kalangan anak Rohis untuk menjadi masukan kepada diri saya sendiri
atau orang lain untuk mengambil langkah yang tepat dalam membina anak-anak
Rohis.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konsep
Ibadah Sholat
“….. Salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman” (QS An-Nisa’(4) :103)
Ini berarti bahwa shalat merupakan ibadah yang
tidak boleh ditinggalkan dan waktunya sudah ditentukan sehingga lebih baik
untuk mengerjakannya tepat waktu.
"Dan dirikanlah
shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"(QS. Huud: 114)
Adapun
waktu-waktu sholat adalah sebagai berikut,
a. Sholat
subuh, dimulai sejak terbitnya
fajar shadiq hingga terbitnya matahari.
b. Sholat
Zuhur, dimulai sejak matahari
tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat.
c. Sholat
Ashar, dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur
sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama
panjangnya dengan panjang benda itu sendiri.
d. Sholat Maghrib, dimulai
sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para
ulama, yaitu sejak hilangnya semua
bulatan matahari di telan bumi.
e. Sholat Isya’, dimulai sejak
berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq
terbit.
B. Konsep
Media Sosial
Media sosial, seperti
namanya media sosial merupakan media untuk bersosialisasi. Informasi yang
didapat dari sebuah halaman media sosial (Wikipedia) dijelaskan bahwa media sosial itu sendiri adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi
meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang
paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial
adalah media online yang mendukung interaksi sosial dan media sosial
menggunakan teknologi berbasis web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif
(dikutip dari http://ptkomunikasi.wordpress.com).
Media sosial yang
benar-benar sedang naik daun dikalangan remaja dan pelajar adalah jejaring
sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ada juga jejaring sosial yang
dapat dimanfaatkan para penggunanya untuk berbagi foto, contohnya adalah
jejaring sosial Instagram.
Saat ini, media
sosial benar-benar memiliki daya tarik tersendiri. Selain untuk memudahkan
seseorang dalam berkomunikasi, ternyata media sosial juga dianggap memiliki
pengaruh terhadap status sosial seseorang menurut sebagian orang, “Kalo dia
punya banyak followers di twitter artinya dia lumayan terkenal, tapi kecuali
dia pake free followers”, menurut salah seorang yang berpendapat seperti itu(Ravena
Rusma).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan
Penelitian
(1) Memperoleh data tentang banyaknya anggota Rohis kelas
VIII di SMP N 179 yang aktif menggunakan media sosial
(2) Memperoleh data tentang media sosial apa yang sering
digunakan oleh anggota Rohis kelas VIII
di SMP N 179.
(3) Memperoleh data tentang hal-hal yang dibahas dalam
media sosial.
(4) Memperoleh data tentang pengaruh penggunaan media
sosial dalam menjalankan ibadah sholat wajib.
B. Tempat
dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian di SMP N 179. Waktunya, pada minggu pertama dan kedua di bulan
September 2013.
C. Latar
Penelitian
Penelitian
dilakukan pada anggota Rohis SMP N 179
yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang ada di
lingkungan SMP N 179. Penelitian dikhususkan pada anggota Rohis kelas VIII yang
berjumlah 42 anak.
D.
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
E. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
yang digunakan adalah wawancara langsung dengan teknik bincang-bincang,
sehingga narasumber tidak tahu bahwa dirinya sedang diwawancarai. Dan juga
teknik respondensi.
F. Sumber Data
Anak
Rohis dengan jumlah sebagai berikut:
(1) Anak laki-laki dengan jumlah 13 anak
(2) Anak perempuan dengan jumlah 29 anak
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
A. Gambaran
Latar Penelitian
Gambaran latar penelitiannya
adalah mencari informasi tentang pengaruh media sosial dalam menjalankan ibadah
sholat, maka dari itu objek
pengamatannya adalah sebagian anggota Rohis, yaitu seluruh anggota Rohis di
kelas 8.
B. Temuan
Penelitian
1. Data tentang Banyaknya Anak-anak Rohis kelas VIII di SMP
N 179 yang Aktif Menggunakan Media Sosial.
Dari 42 anggota Rohis kelas
VIII di SMP N 179 ada 31 anak yang mengaku bahwa dirinya aktif di media sosial.
“Aktif di media sosial sih, tapi lebih seringnya di Twitter.”, ujar seorang
narasumber (Alfi Nabila). Ada lagi pengakuan dari anggota Rohis kelas VIII di
SMP N 179 lainnya “Aktif sih, Facebook sama Twitter seimbang”, jawaban seorang
anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179 ( Ahmad Syafiq), ketika ditanya mengenai
aktif atau tidaknya di media sosial.
Ada 11 anak yang mengaku
dirinya biasa saja terhadap media sosial, “Saya menggunakan media sosial biasa
aja sih ya, dibilang aktif enggak, soalnya jarang buka media sosial, kayak
twitter sekalinya buka paling juga hanya balas mention yang masuk”, ujar seorang narasumber (Airlangga Raihan). Ada
juga jawaban lain saat ditanya mengenai aktif atau tidaknya menggunakan media
sosial, dan mengaku biasa saja “Aktif sih enggak, biasa aja. Kalo ada waktu
luang sih on di Facebook atau enggak Twitter, tapi nggak aktif sih ya, biasa
aja”, jawab seorang narasumber lain (Ravena Rusma)
2. Data media sosial
yang sering digunakan oleh anak-anak Rohis kelas VIII SMP N 179.
Dari 42 anggota Rohis kelas VIII di SMP N 179, berikut
adalah data yang di dapat;
|
Media Sosial
|
Jumlah penggemar
|
Alasan
|
|
Facebook
|
1 orang
|
“Kalo di Facebook itu seru sih ya, walaupun di
Twitter lebih ramai tapi rasanya sudah tertarik dan terlanjur nyaman aja sama
Facebook”, (Tri Yuliana)
|
|
Twitter
|
41 orang
|
“Seru di Twitter lah, bisa saling ngefollow, ada
timeline juga, pokoknya twitter lebih menarik deh”(Devanya Khoirunisa)
“Twitter sih, soalnya ramai, seru, terus ada
aplikasi tambahan juga di twitter kan kayak twitbot.”, (Dinda Ayu).
|
3. Data tentang hal-hal yang dibahas dalam media sosial.
Saat menggunakan media
sosial, tentunya ada hal yang dibahas di dalamnya, hal-hal itu mencangkup hal
yang dibicarakan saat berkomunikasi melalui media sosial dan hal yang ditulis
atau diunggah di media sosial.
a) Hal yang dibicarakan saat berkomunikasi melalui media
sosial
Hal yang sering dibicarakan saat berkomunikasi melalui
media sosial, yaitu ada yang memanfaatkan media sosial untuk curhat ke teman
melalui media sosial tersebut. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang
narasumber “Kalau komunikasi lewat media sosial paling sama temen sih, biasanya
curhat lewat DM di Twitter atau di inbox Facebook”, (Munifa).
Saat berkomunikasi melalui media sosial, ada juga yang
hanya sekedar menyakan tentang tugas sekolah, “Kalau komunikasi lewat media
sosial ya paling nanya-nanya PR sama temen”, (Avinda).
b)
Hal yang ditulis
atau diunggah di media sosial
Hal yang ditulis atau diunggah di media sosial,
ternyata tergantung perasaan orang tersebut saat sedag menggunakan media sosial.
“Nge-tweet di twitter sih tergantung mood,
kalau moodnya lagi bagus ya
nge-tweetnya yang baik-baik yang bijak-bijak deh, pernah juga sih nge-tweet
soal agama.”, ujar seorang narasumber (Fasya)
Hal apa saja yang baiasa dibahas di media sosial juga dijawab oleh salah
seorang narasumber lain. “Biasanya sih kalau di Facebook atau enggak di twitter
bahasnya sesuai perasaan saat itu. Nah, tapi kan saya lebih aktif di Facebook
dan di Facebook cukup banyak halaman yang memuat artikel tentang agama Islam
yang sudah saya like, dan
artikel-artikel tersebut saya sering bagikan lewat facebook.”, (Tri Yuliana)
Hampir semua
narasumber menjawab hal yang sama mengenai hal-hal apa saja yang dibahas di
media sosial. Jawaban terbanyak adalah sesuai perasaan kita saat memainkan
media sosial tersebut.
Tapi alangkah
lebih baik lagi jika kita lebih sering bahkan selalu menyebarkan dakwah,
meskipun hanya lewat dunia maya atau media sosial. Seperti yang tertera dalam
hadist, “Dari
‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
[HR. Bukhari]
4. Data tentang pengaruh penggunaan media sosial dalam
menjalankan ibadah sholat wajib.
Penggunaan media sosial yang
melampaui batas akan berdampak buruk yang salah satunya adalah lalai dalam
sholat, melalaikan waktu sholat sangat dilarang oleh Allah swt. “Maka celakalah orang-orang yang shalat (4), (yaitu) orang-orang yang
lalai terhadap shalatnya (5)” (QS. Al-Ma’un 107: 4 dan 5).
Tapi nyatanya, media sosial
benar-benar merubah kebiasaan sholat bagi orang yang tak tahan akan godaan.
Beberapa narasumber mengaku bahwa dirinya pernah bahkan bisa dikatakan sering
mengulur waktu sholat juga sudah benar-benar ke asyikan bersosial media. “Kalau
sudah terlalu keasyikan sih jadi lupa waktu, entah kenapa bawaannya itu
tanggung aja buat main, eh lama-lama waktu sholatnya jadi keundur, bahkan
pernah dapat waktu sholat di penghujung waktunya saat waktu untuk menjalankan sholat
tersebut hampir habis.”, ujar salah seorang narasumber (Fara).
Terlalu asyik bermain media
sosial juga bukan hanya mengulur dan menunda waktu sholat, tapi juga
menyebabkan seseorang tersebut meninggalkan sholatnya. Seperti pernyataan
seorang narasumber berikut saat ditanya mengenai pengaruh media sosial dalam
menjalankan ibadah sholat, “Media sosial berpengaruh sih sama waktu menjalankan
sholat, waktu itu pernah ninggalin sholat cuma karena terlalu seru bales
mention di twitter ya gimana ya, kayak udah keasyikan aja deh, awalnya cuma
tanggung dan nggak niat ninggalin sholat. Tapi akhirnya malah kelewatan waktu
sholatnya.”,(Bella).
Ternyata benar, secara tidak
langsung media sosial berpengaruh terhadap waktu menjalankan ibadah sholat, itu
semua karena syetan yang selalu ingin menggoda manusia lewat jalan mana pun.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media sosial ternyata sudah
menjadi hal yang biasa di kalangan pelajar termasuk anak-anak Rohis yang
menjadi fokus penelitian kali ini.
Ternyata Media sosial juga
bisa membawa bencana jika kita tidak menyikapinya dengan baik, contohnya
seperti meninggalkan sholat. Terlalu asyik bersosial media memiliki efek
samping salah satunya adalah hal tersebut. Awalnya mungkin hanya berasal dari
kata ‘tanggung’ dan beranggapan bahwa waktu sholat itu sangat luas dan akhirnya
mengulur-ulur waku sholat. Sampai akhirnya sholat tersebut pun tertinggalkan.
Meninggalkan sholat karena
terlala asyik bersosial media ternyata dapat kembali terulang jika tidak
mencoba untuk menegur diri sendiri.
Bermain media sosial bukan
berarti tidak boleh, tapi jangan lah meninggalkan sholat apalagi hanya karena
sibuk membalas mention yang masuk di Twitter, sibuk memberikan komentar dan like di Facebook, sibuk unggah foto
melalui instagram. Karena sebenarnya semua itu ada batasnya dan Allah tidak
menyukai hal yang berlebihan dan melampaui batas.
B. Saran
Setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya,
begitu juga dengan permasalahan ini, ada saran-saran untuk mencegah pengaruh
buruk dari bersosial media, yang salah satunya adalah meninggalkan sholat.
Bermain media sosial tetap bisa dijalankan, tapi
setidaknya dikurangkan waktu dalam bermain di media sosial agar tetap memiliki
waktu dalam beribadah. Jika tidak dapat mengurangi waktu untuk bersosial media,
tapi tetap harus menjalankan sholat dan
tidak meninggalkannya, memantapkan hati untuk tidak lalai dalam sholat.
Agak sulit memang jika meninggalkan sholat sudah
menjadi kebiasaan, mungkin awalnya hanya karena terlalu asyik bermedia sosial
yang selanjutnya mengulur-ulur waktu sholat hingga akhirnya waktu sholat itu
habis. Maka dari itu, mulailah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Biasakan untuk sholat tepat waktu dan tidak lalai dalam waktu sholat.
Sebenarnya, jalan keluar yang paling efektif datang
dari kemauan dan kesadaran diri sendiri. Meyakinkan dalam hati bahwa sholat
adalah kebutuhan kita sebagai umat islam. Jadi, di saat kita meninggalkan
sholat kita akan merasakan ada sesuatu yang hilang di diri kita.
Selain itu, saran berikutnya adalah saling mengingati untuk
selalu menjalankan sholat.
C. Daftar Pustaka
·
Al-Qur’an
·
Hadist
·
Ensiklopedia
Indeks Al-Qur’an
Disusun Oleh: Salindri Dara Rizkita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar