Siapa sih yang nggak
kenal sama penyakit kulit yang satu ini? Ya, kutil. Jika teman-teman menemukan benjolan kecil seperti daging yang bertekstur
kasar dan berwarna seperti warna kulit di permukaan kulit teman-teman, itu
adalah kutil.
Aku juga punya
pengalaman dengan penyakit kulit yang satu ini, dan aku kan berbagi sedikit
pengalamanku tentang kutil.
Semuanya berawal dari
sebuah benjolan kecil di ibu jari tangan kiriku saat aku duduk di bangku
sekolah dasar. Aku lupa persisnya, entah itu kelas 2 SD atau kelas 3 SD. Tapi
aku masih ingat dengan perlakuanku terhadap benjolan kecil itu. Karena aku
merasa risih, aku menggaruk dan mecoba mengelupasi benjolan kecil itu, dan
berharap benjolan kecil itu akan terkelupas. Namun, semakin lama benjolan itu
tumbuh dan menjadi kasar di permukaannya. Aku pun melaporkan hal ini kepada
ayah dan bunda. Awalnya, menurut mereka, benjolan kecil itu adalah mata ikan.
Ayah pun membelikan salep kulit yang memang untuk mengatasi mata ikan dan
kutil.
Salep kulit itu aku pakai
sesuai aturan, namun tidak ada perubahan yang berarti. Hingga akhirnya aku
menghentikan penggunaan salep itu.
Namun, hal lain justru
malah terjadi. Benjolan kecil di ibu jari tangan kiriku, malah menyebar ke jari
telunjuk dan jari tengah tangan kiriku. Awalnya hanya satu, tapi lama-kelamaan
bertambah banyak. Hal ini terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.
Hingga akhirnya, saat
aku kelas 8 SMP aku ke dokter kulit untuk berkonsultasi mengenai benjolan ini.
Benjolan yang diduga oleh ayah, bunda, dan teman-temanku adalah mata ikan,
ternyata kata dokter benjolan ini adalah kutil. Atau dalam istilah medis
dikenal sebagai papilloma.
Papilloma ini sebenarnya
sejenis tumor jinak pada kulit yang berasal dari penebalan lapisan luar kulit
yang berlebihan dan disebabkan oleh virus. Virus ini dikenal dengan nama Human
Papilloma Virus (HPV). Ada lebih dari 50 jenis kutil, yang dapat mengenai
bagian tubuh mana pun, tetapi paling sering di bagian tangan dan kaki. Ada
kutil yang dapat hilang dalam beberapa minggu, ada juga yang menetap hingga
lama. Dan kata dokter, jenis kutil yang aku miliki adalah kutil yang menetap
hingga lama dan akan terus berkembang. Sehingga dokter menyarankanku untuk
segera dioperasi kecil untuk mengangkat kutil-kutil di jariku. Namun, aku belum
siap karena takut disuntik bius.
Aku pikir pertumbuhan
kutilku akan berhenti, tapi nyatanya tidak. Saat aku kelas 9 SMP, kutil di
jari-jari tangan kiriku malah menyebar ke ibu jari tangan kananku. Hingga
akhirnya aku kembali berkonsultasi ke dokter.
Selasa, 20 Januari 2015.
Aku kembali ke dokter kulit, dan lagi-lagi dokter menyarankanku untuk melakukan
operasi kecil. Sebenarnya aku belum siap, tapi kata dokter kalau dibiarkan akan
terus menyebar karena kutil yang aku miliki memiliki daya berkembang yang cukup
cepat, buktinya dalam jangka setahun itu sudah menyebar ke jari tangan kanan.
Akhirnya aku memilih
untuk segera dilakukan tindakan. Sebelum dilakukan tindakan, diberikan salep di
setiap kutil dan dibiarkan selama setengah jam. Setelah itu, aku dibius lokal
melalui suntikan. Satu kutil, satu suntikan. Untuk menghindari rasa sakit yang
terlalu saat dibius, dokter memilih untuk membagi biusan menjadi dua kali.
Sehingga satu kutil, dua kali suntik bius. Dan sungguh, itu tuh sakit banget.
Rasanya gimanaaaa gitu, linu perih deh pokoknya. Setelah itu kutilnya kayak
dibakar gitu pake alat, terus diangkat dan dimatiin akarnya.
Setelah aku lihat, hasil
akhirnya ternyata kayak tanah yang abis dicangkul. Bolong-bolong gitu. Tapi
setelah itu, dibersihkan darahnya dan diberikan salep lalu dibalut kasa. Namun,
karena keesokan harinya aku harus sekolah dengan aktifitas umum di sekolah
yaitu menulis, dokter membolehkan agar kasa diganti dengan plester biasa namun
tetap diberikan salep anti infeksi. Hal itu untuk memudahkan kegiatan
sehari-hari.
Nah, itu dia
pengalamanku dengan kutil. Bagi teman-teman yang memiliki penyakit kulit yang
sama, mungkin bisabeli salep untuk menghilangkan kutil, namun jika kutil malah
menyebar, segera konsultasikan ke dokter yaaa.. semoga bermanfaat ;)