Senin, 09 Februari 2015

Es Riang Gembira



Ternyata bukan perasaan kita aja yang bisa riang gembira. Es juga bisa riang gembira lho!
                Durian. Buah ini bukan buah yang langka, jadi hampir semua orang pasti tau jenis buah ini. Tapi, kali ini aku nggak akan bahas soal buahnya melainkan aku akan bahas mengenai salah satu olahan dari buah ini. Yap, durian bisa diolah menjadi banyak jenis makanan. Ada kinca, es krim durian, dodol, kolak, serabi, martabak, dan masih banyaaakk lagi. Salah satunya adalah Es riang gembira.


Entahlah siapa yang pertama ngasih nama es ini dengan nama ‘riang gembira’, tapi namanya itu cocok banget sama perasaan kita setelah makan es ini. Apalagi bagi para pecinta durian.
                Pertama kali aku nyobain es riang gembira ini gara-gara ayah ngajak ke salah satu cafe serba durian di bilangan Margonda, Depok. Kebetulan, aku dan keluargaku memang pencinta durian. Setelah nyobain es riang gembira, aku jadi jatuh cinta sama olahan durian yang satu ini.
                Karena bunda tau aku suka sama salah satu olahan durian ini, bunda mencoba untuk buat sendiri di rumah. Dan ternyata, rasanya mirip! Yeay, hehehe.
                Kalau temen-temen penasaran sama es riang gembira ini, aku punya resepnya lho dari bunda.
Bahan-bahan:
Durian dibuang bijinya
simple syrup (gula yang dimasak bersama air)
es batu
Susu kental manis
Keju (Bisa diganti dengan  topping lain sesuai selera)
Cara Membuatnya:
Buah durian dipisahkan dari bijinya, masukkan ke dalam gelas. Lalu, tambahkan simple syrup dan es batu yang dihancurkan. Kemudian, tambahkan susu kental manis dan terakhir berikan topping sesuai selera, misalnya keju.
                Gimana? Praktis ‘kan? Yuk dicoba!

Senin, 02 Februari 2015

Kutil



Siapa sih yang nggak kenal sama penyakit kulit yang satu ini? Ya, kutil.  Jika teman-teman menemukan benjolan kecil seperti daging yang bertekstur kasar dan berwarna seperti warna kulit di permukaan kulit teman-teman, itu adalah kutil.
            Aku juga punya pengalaman dengan penyakit kulit yang satu ini, dan aku kan berbagi sedikit pengalamanku tentang kutil.
            Semuanya berawal dari sebuah benjolan kecil di ibu jari tangan kiriku saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku lupa persisnya, entah itu kelas 2 SD atau kelas 3 SD. Tapi aku masih ingat dengan perlakuanku terhadap benjolan kecil itu. Karena aku merasa risih, aku menggaruk dan mecoba mengelupasi benjolan kecil itu, dan berharap benjolan kecil itu akan terkelupas. Namun, semakin lama benjolan itu tumbuh dan menjadi kasar di permukaannya. Aku pun melaporkan hal ini kepada ayah dan bunda. Awalnya, menurut mereka, benjolan kecil itu adalah mata ikan. Ayah pun membelikan salep kulit yang memang untuk mengatasi mata ikan dan kutil.
            Salep kulit itu aku pakai sesuai aturan, namun tidak ada perubahan yang berarti. Hingga akhirnya aku menghentikan penggunaan salep itu.
            Namun, hal lain justru malah terjadi. Benjolan kecil di ibu jari tangan kiriku, malah menyebar ke jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku. Awalnya hanya satu, tapi lama-kelamaan bertambah banyak. Hal ini terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.
            Hingga akhirnya, saat aku kelas 8 SMP aku ke dokter kulit untuk berkonsultasi mengenai benjolan ini. Benjolan yang diduga oleh ayah, bunda, dan teman-temanku adalah mata ikan, ternyata kata dokter benjolan ini adalah kutil. Atau dalam istilah medis dikenal sebagai papilloma.
            Papilloma ini sebenarnya sejenis tumor jinak pada kulit yang berasal dari penebalan lapisan luar kulit yang berlebihan dan disebabkan oleh virus. Virus ini dikenal dengan nama Human Papilloma Virus (HPV). Ada lebih dari 50 jenis kutil, yang dapat mengenai bagian tubuh mana pun, tetapi paling sering di bagian tangan dan kaki. Ada kutil yang dapat hilang dalam beberapa minggu, ada juga yang menetap hingga lama. Dan kata dokter, jenis kutil yang aku miliki adalah kutil yang menetap hingga lama dan akan terus berkembang. Sehingga dokter menyarankanku untuk segera dioperasi kecil untuk mengangkat kutil-kutil di jariku. Namun, aku belum siap karena takut disuntik bius.
            Aku pikir pertumbuhan kutilku akan berhenti, tapi nyatanya tidak. Saat aku kelas 9 SMP, kutil di jari-jari tangan kiriku malah menyebar ke ibu jari tangan kananku. Hingga akhirnya aku kembali berkonsultasi ke dokter.
            Selasa, 20 Januari 2015. Aku kembali ke dokter kulit, dan lagi-lagi dokter menyarankanku untuk melakukan operasi kecil. Sebenarnya aku belum siap, tapi kata dokter kalau dibiarkan akan terus menyebar karena kutil yang aku miliki memiliki daya berkembang yang cukup cepat, buktinya dalam jangka setahun itu sudah menyebar ke jari tangan kanan.
            Akhirnya aku memilih untuk segera dilakukan tindakan. Sebelum dilakukan tindakan, diberikan salep di setiap kutil dan dibiarkan selama setengah jam. Setelah itu, aku dibius lokal melalui suntikan. Satu kutil, satu suntikan. Untuk menghindari rasa sakit yang terlalu saat dibius, dokter memilih untuk membagi biusan menjadi dua kali. Sehingga satu kutil, dua kali suntik bius. Dan sungguh, itu tuh sakit banget. Rasanya gimanaaaa gitu, linu perih deh pokoknya. Setelah itu kutilnya kayak dibakar gitu pake alat, terus diangkat dan dimatiin akarnya.
            Setelah aku lihat, hasil akhirnya ternyata kayak tanah yang abis dicangkul. Bolong-bolong gitu. Tapi setelah itu, dibersihkan darahnya dan diberikan salep lalu dibalut kasa. Namun, karena keesokan harinya aku harus sekolah dengan aktifitas umum di sekolah yaitu menulis, dokter membolehkan agar kasa diganti dengan plester biasa namun tetap diberikan salep anti infeksi. Hal itu untuk memudahkan kegiatan sehari-hari.
            Nah, itu dia pengalamanku dengan kutil. Bagi teman-teman yang memiliki penyakit kulit yang sama, mungkin bisabeli salep untuk menghilangkan kutil, namun jika kutil malah menyebar, segera konsultasikan ke dokter yaaa.. semoga bermanfaat ;)