Sabtu, 10 Januari 2015

Salam Air Bersih



Andai saja bumi adalah sebuah semangka, bagaimanakah buah semangka itu? Buah itu menyimpan banyak air bukan? Ya seperti itu, rasa segar di buah semangka berasal dari air buah tersebut. Begitu juga bumi kita, kesegarannya bersumber dari air yang ada di dalamnya. Semakin hari, apakah kita semakin merasakan kesegaran air dari bumi kita? Pasti kita semua akan menggeleng. Mengapa?
Air. Seluruh manusia di dunia pasti tahu bahwa air adalah sumber kehidupan. Sumber kehidupan ? Ya benar, sumber kehidupan. Siapa orang di bumi ini yang bisa terlepas hidupnya dari air? Tentu tidak ada. Dari bangun tidur sampai tidur lagi ada banyak kegiatan manusia yang sangat bergantung pada kesegaran air, baik untuk minum, kebersihan dirinya, dan kebersihan sarana lingkungannya. Jadi,  air adalah hal pokok yang diperlukan dalam kehidupan.
Belakangan, banyak orang yang bilang seperti ini “Air di bumi semakin hari semakin berkurang!” Wah, itu salah! Sebenarnya yang berkurang bukanlah air yang ada di bumi, tapi yang berkurang adalah kualitasnya yang juga menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memerhatikan air. Sebenarnya, air tak pernah berkurang karena adanya siklus air.
Siklus air tidak pernah berhenti. Air di permukaan laut dan sungai akan selalu menguap menjadi awan. Awan akan semakin tebal dan meninggi di langit. Awan itu akan berubah kembali menjadi hujan. Air hujan terserap ke permukaan tanah lalu ia akan meresap ke dalam tanah. Air tanah itu digunakan oleh manusia dalam hidupnya. Ia akan kembali mengalir di sungai untuk kemudian bermuara dan berkumpul kembali di laut lalu akhirnya menguap kembali. Begitu seterusnya.
Persoalannya, justru siklus air itu terganggu kualitasnya akibat ulah manusianya sendiri. Indonesia adalah Negara yang sebagian besar adalah lautan. Berarti banyak airnya dong ?Heheheh…, tapi air lautan kan air asin, bisa buat minum ngga sih ? mungkin bisa, tapi perlu melalui beberapa proses terlebih dahulu.
            Di Indonesia, belum cukup banyak orang yang menyadarai seberapa pentingnya air. Tapi jika terjadi banjir ataupun krisis air di musim kemarau, mereka teriak-teriak seakan menyalahkan perubahan musim. Indonesia, masih perlu kesadaran untuk menjadikan bumi lebih baik.
Teman-teman..! kita masih bahas air kan ? Sekarang main tebak-tebakan yuuu ! Ayo tebak air punya ibu ngga sih ? Punyaaaa !! Siapa hayoooo ? Hutan.. !! yap..yap..yap Hutan !
            Hutan adalah ibu bagi air. Layaknya seorang ibu, hutan mengandung anaknya yaitu air. Mengapa hutan disebut disebut sebagai ibu bagi air ? Mari kita selidiki. Ikut uraianku!
            Di dalam hutan, ada banyak pohon besar. Kalau banyak pasti lebih dari satu ‘kan ? Bayangkan, satu pohon saja dapat mengandung beberapa juta ton air, apalagi kalau banyak pohonnya ! Wahhh.. air bersih di bumi pasti terus meningkat.
            Kita ilustrasikan bersama ya teman-teman ! Saat hujan turun pohon-pohon merasa sangat gembira, seakan diguyur oleh rahmat dan rizki dari Tuhan. Selanjutnya, para pohon berlomba-lomba untuk menangkap air sebanyak mungkin lewat dau dan akar-akar mereka, lalu mereka menyimpannya dan mengolahnya melalui prose alami menjadi air bersih. Wah, ternyata tumbuhan juga memiliki peran penting. Jaga mereka ya teman !
            Teman.., kita harus turut bersedih bersedih karena sudah banyak hutan yang ditebangi, kita mengheningkan cipta dulu ya, karena pohon juga termasuk pahlawan, yaitu pahlawan penyelamat bumi.
            Hutan banyak yang ditebangi, artinya sudah sedikit yang mampu menyimpan dan menahan air. Akibatnya air menjelajah ke sebagian permukaan bumi, mencari tempat di mana ia dapat diserap di sana. Tapi di mana? hampir seluruh jalan sudah ditutupi semen dan aspal. Itu adalah salah satu penyebab banjir. Selain banyaknya jalan yang diaspal, kebiasaan masyarakat akan membuang sampah sembarangan juga mengakibatkan banjir, bahkan bukan hanya banjir. Dengan membuang sampah sembarangan artinya masyarakat juga ikut serta dalam mencemari air. Perlahan tapi pasti, kami akhirnya menyadari betapa kami, kalian, mereka, dan seluruh penduduk bumilah yang memegang peran penting dalam melestarikan bumi.
            Saat musim hujan datang, air meluap, tak dapat terbendung, banjir pun tak dapat terhindar. Sekarang, saat hujan datang banyak orang yang bukannya bersyukur atas datangnya rahmat dari Tuhannya, justru saat hujan banyak merasa takut akan bahayanya yaitu banjir. Bumi maafkan kami. Suatu saat nanti, banjir akan dapat kami atasi, dengan mencoba menyadarkan diri masing-masing.
            Bersambung dari yang tadi, banyaknya penebangan hutan menyebabkan kurangnya resapan air, sehingga cadangan air bersih semakin berkurang.
                Hal ini ternyata berbanding terbalik di saat musim kemarau, karena di musim kemarau justru terjadi kekeringan yang sangat parah. Krisis air yang mendalam,  sudah mulai merambah ke pedesaan. Di mulai dari kota besar seperti Jakarta,  meskipun kota besar Jakarta ternyata memiliki masalah yang cukup besar untuk menemukan cara memenuhi kebutuhan air masyarakatnya. Perlu diketahui, sebagian besar masyarakat yang mendiami wilayah Jakarta lebih memilih menggunakan air PAM dikarenakan kurangnya air bersih, dan inilah yang disebut dengan krisis air.
            Jika masyarakat lebih memilih menggunakan air PAM, lalu bagaimana jika terjadi banjir ? Pastinya akan terjadi kesulitan dan kualitasnya pasti akan menurun.
             Kalau misalnya air PAM memiliki kualitas yang kurang, artinya kita harus bagaimana? Menggunakan air sumur ? Tapi, air sumur semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Dapat diambil contoh dari salah satu daerah di Jakarta Utara, air sumur di sana memiliki kualitas yang kurang bahkan tidak dapat dikatakan berkualitas.
            Bayangkan jika krisis air bersih ini semakin berkembang, dan akhirnya semakin banyak pula orang-orang yang mendapatkan air dalam kualitas yang tak layak untuk dapat digunakan.
            Jika Banjir dan krisis air tak segera ditanggapi seserius dan secepat mungkin, apakah yang ada di pikiran kalian? Khawatirkah kalian dengan kehidupan anak dan cucu kita kelak?  Semoga kalian memikirkannya sejauh itu, agar hati kalian tergerak untuk menjadikan bumi ini lebih baik.
            Air. Tetaplah menjadi air yang kami butuhkan. Tetaplah menjadi suatu zat yang cair yang jernih, tanpa rasa, dan tanpa bau. Air yang mampu menyegarkan bumi. Menghilangkan dahaga di bumi yang terasa sangat kering dan tandus.
            Teman-temanku.. yuk kita mulai dari sekarang meningkatkan  kecintaan kita terhadap air di bumi yang semakin hari semakin menunjukan bahwa mereka enggan bersama dan membantu kita lagi.
            Banjir dan krisis air adalah bukan hal yang mustahil untuk dimusnahkan, ya setidaknya daerah yang langganan terkena banjir dan krisis air akan semakin berkurang, dengan menerapkan perilaku hemat air, menjaga kualitas air sungai dari berbagai pencemaran limbah, dan menanam tumbuhan, itu juga sangat membantu melestarikan air loh teman..! Mulai sekarang jangan buang-buang air yaa.., maksudnya bukan buang-buang air karena sakit perut loh, tapi buang-buang air yang dimaksud adalah pemborosan air. Hehehe.. Kalau teman masih belum bisa menghilangkan perilaku pemborosan air, paling tidak perilaku itu dikurangi sedikit demi sedikit, dan memberikan kesadaran di hati kita masing-masing bahwa masih banyak orang yang memerlukan air bersih, bahkan ada saja yang sangat sulit untuk mendapatkannya.
            “Air mengalir sampai jauh.. akhirnya ke laut..” Semoga lagu legendaris Almarhum Gesang bukan hanya menjadi sebuah lagu, tapi menjadi sebuah gambaran untuk kehidupan air beberapa waktu yang akan datang, dan semoga tak lama lagi. Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut..  ya, semoga suatu saat nanti, air yang mengalir akan sampai ke laut dengan tenang tanpa membawa bencana untuk manusia. Semoga air yang sampai ke laut juga tidak membawa sampah dan hal buruk lainnya, dan akhirnya siklus air akan berjalan semestinya.
Teman.., apakah kau masih di sana? Satu kalimat ringan untuk kita semua: “Sayangi air untuk bumi kita!” Salam air bersih!
                                                                                                 Oleh: Salindri Dara Rizkita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar