Andai saja bumi adalah
sebuah semangka, bagaimanakah buah semangka itu? Buah itu menyimpan banyak air
bukan? Ya seperti itu, rasa segar di buah semangka berasal dari air buah
tersebut. Begitu juga bumi kita, kesegarannya bersumber dari air yang ada di
dalamnya. Semakin hari, apakah kita semakin merasakan kesegaran air dari bumi
kita? Pasti kita semua akan menggeleng. Mengapa?
Air. Seluruh manusia di
dunia pasti tahu bahwa air adalah sumber kehidupan. Sumber kehidupan ? Ya
benar, sumber kehidupan. Siapa orang di bumi ini yang bisa terlepas hidupnya
dari air? Tentu tidak ada. Dari bangun tidur sampai tidur lagi ada banyak
kegiatan manusia yang sangat bergantung pada kesegaran air, baik untuk minum,
kebersihan dirinya, dan kebersihan sarana lingkungannya. Jadi, air adalah hal pokok yang diperlukan dalam
kehidupan.
Belakangan, banyak
orang yang bilang seperti ini “Air di bumi semakin hari semakin berkurang!”
Wah, itu salah! Sebenarnya yang berkurang bukanlah air yang ada di bumi, tapi
yang berkurang adalah kualitasnya yang juga menunjukkan kurangnya kesadaran
masyarakat untuk menjaga dan memerhatikan air. Sebenarnya, air tak pernah
berkurang karena adanya siklus air.
Siklus air tidak pernah
berhenti. Air di permukaan laut dan sungai akan selalu menguap menjadi awan.
Awan akan semakin tebal dan meninggi di langit. Awan itu akan berubah kembali
menjadi hujan. Air hujan terserap ke permukaan tanah lalu ia akan meresap ke
dalam tanah. Air tanah itu digunakan oleh manusia dalam hidupnya. Ia akan kembali
mengalir di sungai untuk kemudian bermuara dan berkumpul kembali di laut lalu
akhirnya menguap kembali. Begitu seterusnya.
Persoalannya, justru
siklus air itu terganggu kualitasnya akibat ulah manusianya sendiri. Indonesia
adalah Negara yang sebagian besar adalah lautan. Berarti banyak airnya dong
?Heheheh…, tapi air lautan kan air asin, bisa buat minum ngga sih ? mungkin
bisa, tapi perlu melalui beberapa proses terlebih dahulu.
Di
Indonesia, belum cukup banyak orang yang menyadarai seberapa pentingnya air.
Tapi jika terjadi banjir ataupun krisis air di musim kemarau, mereka
teriak-teriak seakan menyalahkan perubahan musim. Indonesia, masih perlu
kesadaran untuk menjadikan bumi lebih baik.
Teman-teman..! kita
masih bahas air kan ? Sekarang main tebak-tebakan yuuu ! Ayo tebak air punya
ibu ngga sih ? Punyaaaa !! Siapa hayoooo ? Hutan.. !! yap..yap..yap Hutan !
Hutan
adalah ibu bagi air. Layaknya seorang ibu, hutan mengandung anaknya yaitu air.
Mengapa hutan disebut disebut sebagai ibu bagi air ? Mari kita selidiki. Ikut uraianku!
Di
dalam hutan, ada banyak pohon besar. Kalau banyak pasti lebih dari satu ‘kan ?
Bayangkan, satu pohon saja dapat mengandung beberapa juta ton air, apalagi
kalau banyak pohonnya ! Wahhh.. air bersih di bumi pasti terus meningkat.
Kita
ilustrasikan bersama ya teman-teman ! Saat hujan turun pohon-pohon merasa
sangat gembira, seakan diguyur oleh rahmat dan rizki dari Tuhan. Selanjutnya, para
pohon berlomba-lomba untuk menangkap air sebanyak mungkin lewat dau dan
akar-akar mereka, lalu mereka menyimpannya dan mengolahnya melalui prose alami
menjadi air bersih. Wah, ternyata tumbuhan juga memiliki peran penting. Jaga
mereka ya teman !
Teman..,
kita harus turut bersedih bersedih karena sudah banyak hutan yang ditebangi,
kita mengheningkan cipta dulu ya, karena pohon juga termasuk pahlawan, yaitu
pahlawan penyelamat bumi.
Hutan
banyak yang ditebangi, artinya sudah sedikit yang mampu menyimpan dan menahan
air. Akibatnya air menjelajah ke sebagian permukaan bumi, mencari tempat di mana
ia dapat diserap di sana. Tapi di mana? hampir seluruh jalan sudah ditutupi
semen dan aspal. Itu adalah salah satu penyebab banjir. Selain banyaknya jalan
yang diaspal, kebiasaan masyarakat akan membuang sampah sembarangan juga
mengakibatkan banjir, bahkan bukan hanya banjir. Dengan membuang sampah
sembarangan artinya masyarakat juga ikut serta dalam mencemari air. Perlahan
tapi pasti, kami akhirnya menyadari betapa kami, kalian, mereka, dan seluruh
penduduk bumilah yang memegang peran penting dalam melestarikan bumi.
Saat
musim hujan datang, air meluap, tak dapat terbendung, banjir pun tak dapat
terhindar. Sekarang, saat hujan datang banyak orang yang bukannya bersyukur
atas datangnya rahmat dari Tuhannya, justru saat hujan banyak merasa takut akan
bahayanya yaitu banjir. Bumi maafkan kami. Suatu saat nanti, banjir akan dapat
kami atasi, dengan mencoba menyadarkan diri masing-masing.
Bersambung
dari yang tadi, banyaknya penebangan hutan menyebabkan kurangnya resapan air,
sehingga cadangan air bersih semakin berkurang.
Hal
ini ternyata berbanding terbalik di saat musim kemarau, karena di musim kemarau
justru terjadi kekeringan yang sangat parah. Krisis air yang mendalam, sudah mulai merambah ke pedesaan. Di mulai
dari kota besar seperti Jakarta, meskipun
kota besar Jakarta ternyata memiliki masalah yang cukup besar untuk menemukan
cara memenuhi kebutuhan air masyarakatnya. Perlu diketahui, sebagian besar
masyarakat yang mendiami wilayah Jakarta lebih memilih menggunakan air PAM
dikarenakan kurangnya air bersih, dan inilah yang disebut dengan krisis air.
Jika
masyarakat lebih memilih menggunakan air PAM, lalu bagaimana jika terjadi
banjir ? Pastinya akan terjadi kesulitan dan kualitasnya pasti akan menurun.
Kalau misalnya air PAM memiliki kualitas yang
kurang, artinya kita harus bagaimana? Menggunakan air sumur ? Tapi, air sumur
semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Dapat diambil contoh dari salah
satu daerah di Jakarta Utara, air sumur di sana memiliki kualitas yang kurang
bahkan tidak dapat dikatakan berkualitas.
Bayangkan
jika krisis air bersih ini semakin berkembang, dan akhirnya semakin banyak pula
orang-orang yang mendapatkan air dalam kualitas yang tak layak untuk dapat
digunakan.
Jika
Banjir dan krisis air tak segera ditanggapi seserius dan secepat mungkin, apakah
yang ada di pikiran kalian? Khawatirkah kalian dengan kehidupan anak dan cucu
kita kelak? Semoga kalian memikirkannya
sejauh itu, agar hati kalian tergerak untuk menjadikan bumi ini lebih baik.
Air.
Tetaplah menjadi air yang kami butuhkan. Tetaplah menjadi suatu zat yang cair
yang jernih, tanpa rasa, dan tanpa bau. Air yang mampu menyegarkan bumi.
Menghilangkan dahaga di bumi yang terasa sangat kering dan tandus.
Teman-temanku..
yuk kita mulai dari sekarang meningkatkan
kecintaan kita terhadap air di bumi yang semakin hari semakin menunjukan
bahwa mereka enggan bersama dan membantu kita lagi.
Banjir
dan krisis air adalah bukan hal yang mustahil untuk dimusnahkan, ya setidaknya
daerah yang langganan terkena banjir dan krisis air akan semakin berkurang,
dengan menerapkan perilaku hemat air, menjaga kualitas air sungai dari berbagai
pencemaran limbah, dan menanam tumbuhan, itu juga sangat membantu melestarikan
air loh teman..! Mulai sekarang jangan buang-buang air yaa.., maksudnya bukan
buang-buang air karena sakit perut loh, tapi buang-buang air yang dimaksud
adalah pemborosan air. Hehehe.. Kalau teman masih belum bisa menghilangkan
perilaku pemborosan air, paling tidak perilaku itu dikurangi sedikit demi
sedikit, dan memberikan kesadaran di hati kita masing-masing bahwa masih banyak
orang yang memerlukan air bersih, bahkan ada saja yang sangat sulit untuk
mendapatkannya.
“Air
mengalir sampai jauh.. akhirnya ke laut..” Semoga lagu legendaris Almarhum
Gesang bukan hanya menjadi sebuah lagu, tapi menjadi sebuah gambaran untuk
kehidupan air beberapa waktu yang akan datang, dan semoga tak lama lagi. Air
mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut..
ya, semoga suatu saat nanti, air yang mengalir akan sampai ke laut
dengan tenang tanpa membawa bencana untuk manusia. Semoga air yang sampai ke
laut juga tidak membawa sampah dan hal buruk lainnya, dan akhirnya siklus air
akan berjalan semestinya.
Teman.., apakah kau
masih di sana? Satu kalimat ringan untuk kita semua: “Sayangi air untuk bumi
kita!” Salam air bersih!
Oleh: Salindri Dara Rizkita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar